Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Sajak Luka Negeriku (Puisi Farid Surya)

Sajak Luka Negeriku Puisi-puisi Fareed Surya Dua Sudut Engkau berkata tentang kebenaran Akupun berbincang tentang kebenaran Engkau berteriak lantang tentang keadilan Akupun menyerukan suara keadilan Engkau memekikkan takbir Akupun meneriakkan takbir Lalu apa yang kita perdebatkan Apa yang kita perebutkan Allah ghayyatuna, Muhammad qudwatuna Atau jangan-jangan Tuhan kita tak sama Engkau bertuhankan posisi, aku bertuhankan oposisi Engkau bertuhankan oposisi, aku bertuhankan posisi Kita bertuhankan eksistensi Kita bernabikan politisi Kita bergaya seperti merpati yang begitu menawan hati Kita berlagak lembut seperti goyangan pucuk-pucuk padi Kita bertutur manis semanis bidadari Tapi ketika sampai pada posisi dan eksistensi Kita adalah srigala yang melolong dimalam hari Kita adalah harimau yang siap menerkam mangsa yang dicari Jogja, oktober 2006 Berjalan diatas waktu Berjalan diatas waktu Melihat senja yang perlah...

Barikade Sunyi

Seperti hujan yang turun diatas kering kerontang kemarau berkepanjangan Tuhan menurunkan barikade malaikat dalam sunyi sepi keheningan Barikade gagah perkasa yang berjuta jumlahnya yang derap langkahnya hampir-hampir tak bersuara Ah,kalau saja deru mereka seperti guruh yang terdengar jelas di telinga Tentu aku akan habiskan sunyiku Berdiri membiarkan ruh dibawa oleh barikade yang berjuta itu menghadap yang Mulia. RumahMatahari, Juni 2014.

Pesonamu

Pesonamu 1 Kau tak pernah menatapku Kau tak pernah berkata kepadaku Tapi kau buka relung jiwaku dengan tatapan tajammu Kau letakkan kata-kata dalam ruang kerinduanku Kau alirkan makna Disela-sela kesadaranku Kau tundukkan aku Dengan pesona keindahanmu Jogja, mei 2007 Pesonamu 2 Ingin segera aku miliki keindahanmu Merasakan wewangian dari taman pesonamu Memetik sekuntum bunga dan meletakkannya diantara lelahku Menghirup madu dari kelopak indahmu Menatap cahaya dari pancaran matamu Merasakan hangat damainya seluruh hidupmu Rona warna senja tergores dalam lekuk halus wajahmu Cemerlang kemerlap cahaya memancar Terang sebentar, redup sebentar, remang sebentar, gelap sebentar Oh, jiwaku mulai tak lagi tersadar Tenggelam dalam arus yang makin bergelombang Terpejam oleh semburat cahaya yang makin menyilaukan Terlempar dalam pusaran angin yang makin kencang berputar Jogja, juli 2008 

Ampun

Ampun Gusti Pangeran, Hamba teledor Hamba khilaf. Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? Ampun Paduka Nabi, Hamba teledor. Hamba khilaf. Hamba terlampau sombong dengan kata-kata hamba, dengan setitik ilmu pengetahuan yang hamba punya Kini hamba mengaku salah, paduka nabi. Mintakan ampun kepada Gusti Pangeran, paduka.. Hamba mohon, paduka.. Hamba tahu Gusti Pangeran enggan melihat wajahku yang hina ini tapi Gusti Pangeran pasti tak akan menolakmu, paduka.. Mintakan ampun untuk hamba, paduka.. Hamba mohon... Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Ampun Gusti Pangeran, Hamba teledor Hamba khilaf Hamba terlampau bangga dengan setitik pencapaian ilmu pengetahuan yang kau limpahkan pada hamba yang...

Nuurun 'ala Nuur

Nuurun 'ala nuur Luapan ambisiku seketika itu ditundukkan oleh luapan cahaya dari balik bukit Aku terkulai aku lemah Aku kira hanya sebentar saja kesadaranku menghilang Aku kira hanya satu detik saja rentang waktu yang kuhabiskan saat ingatan hatiku menjadi kosong Aku tak ingin melihat wajahNya Aku tak lagi ingin melihat wajahNya Biarlah Ia sendiri yang membuka tabir itu Itu pun kalau Ia sudi membukanya untukku Atau cukuplah bagiku Ia perdengarkan untukku lagu seruling Daud yang indah itu Cakrawala menggantung tanpa tiang penahan Menyatu tanpa ada satu butir debu pun yang terpisahkan dan zaman sudah lebih seribu kali dipergulirkan 2010

Dzikir

Bertakbirlah dalam ruang jiwamu yang paling tenang hingga kau menjadi sebutir debu yang melayang-layang dihamparan semesta yang besar luas membentang Bertasbihlah dalam bening jernih jiwamu hingga kau menjadi setetes air yang mengalir sejuk di celah bebatuan hati Kemanakah kau akan terhempas diantara gumpalan-gumpalan planet dan galaksi yang selalu bertasbih bersandar pada hukum keseimbangan semesta Kemanakah kau akan terlempar diantara petir dan guruh yang selalu bertakbir dalam kilatan-kilatan cahaya dan gelegar suara yang meraja Kemanakah kau akan mencari ketika serpihan jiwamu tercecer dimana-mana sesaat setelah muntahan isi bumi berhamburan memenuhi segala apa kemanakah kau akan berlari? Maret 2011

Tuhan Mengejarku

Tuhan mengejarku Sembunyi aku di kolong waktu Ia menemukanku Berlari aku ketengah-tengah kerumunan batu Ia melihatku Harus kemana aku Juli 2011

Pesta Kebun

Terlentang aku diantara rumput-rumput maksiat Terkapar tertindih bebatuan dosa yang kutimbun saat demi saat Jauh diatas sana langit rahmatMu membiru Terhampar luas memeluk bumi mendekap galaksi Dari kejauhan aku melihat bahagia membuncah dipelataranMu yang agung Bocah-bocah yang dahulu kulihat telah kalah Orang-orang yang dahulu tumbang di medan perang melawan gurita serakah Menari-nari berpesta dipelataranMu yang agung Tertatih aku diatas rumput-rumput maksiat Berjalan menjauh dari pelataranMu yang agung Sambil terus berharap kalau-kalau ada seseorang yang datang memanggil-manggil namaku tegal, 2011